Kamis, 13 Februari 2014

Investor Asing Monopoli Bisnis Mebel di Jepara

Berita Furniture - Pengrajin mebel dan produk furniture lokal di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terancam gulung tikar akibat investasi pegusahaasing yang telah menanamkan modal usaha untuk memproduksi produk yang sama. Mereka menilai pasar bebas membuat mereka kalah bersaing di daerah sendiri, utamanya akibat kalah modal.

“Masuknya pemodal besar asal luar negeri membuat kami kalah segalanya. Modal pasar dan tenaga kerja mereka beli semua,” kata Direktur Jepara Ethnic Furniture, Sahli Rais, kepada Tempo, Selasa, 11 Februari 2014.

Menurut Sahli, masuknya pemodal besar lewat investasi mebel dan furniture di Jepara membuat pengusaha lokal mengalami degradasi profesi. Perbedaan modal besar dengan pengusaha lokal itu membuat mereka jatuh bahkan tak mampu memenuhi pasar dunia karena kalah order.

Tak jarang saat ini banyak eksportir justru turun status menjadi sub-ekportir dari pengusaha asing yang berada di Jepara. Sedangkan pemasok dan perajin di kampung-kampung justru menjadi buruh di perusahaan asing yang telah membuka pabrik di Jepara. Pemasok yang biasa jadi juragan kecil di kampung sekarang jadi mandor di pabrik. Pekerjanya telah direkrut pengusaha asing yang punya order besar.

Sejumlah perusahaan asing yang memiliki pabrik di Jepara itu di antaranya asal Jerman, Cina, Korea Selatan dan Jepang. Mereka mendapat kemudahan membeli bahan mentah berupa kayu log untuk diolah langsung. Pengusaha lokal kalah bersaing dalam membeli bahan baku, tenaga kerja serta pasar di luar negeri yang telah dikuasai oleh pengusaha asing.

Bila kondisi ini terus berlanjut, Sahli menjelaskan, warga Jepara akan menjadi buruh di sejumlah perusahaan besar yang telah dimiliki orang asing. Tercatat ada ratusan ekportir asli Jepara mulai gulung tikar. Mereka menjadi sub-ekportir ke perusahaan besar, bahkan tak jarang menjual bahan produksi antar-pulau karena produk mebel yang diproduksi tak diterima pengusaha asing tersebut. “Sedangkan perajin tingkat usaha kecil di kampung menutup usaha menjadi buruh,” katanya.

Sahli menyatakan sudah mengajukan draf peraturan daerah yang membatasi investasi di Kabupaten Jepara. Salah satu isinya adalah investor mengakomodir semua produk khas mebel Jepara yang diproduksi perajin lokal.

Ketua Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jawa Tengah, Anggoro Ratmodiputro, membenarkan kondisi itu. Menurut dia, tingginya nilai ekspor mebel dan furniture yang ada justru banyak dinikmati oleh pengusaha asing. “Bisa jadi produk terbanyak yang dikirim ke luar negeri milik perusahaan asing asal Jawa Tengah,” kata Anggoro.

Anggoro pernah mengusulkan agar pemerintah menolak investor asing yang hendak berinvestasi dengan teknologi rendah, seperti pabrik mebel dan furniture. Menurut dia, investasi perusahaan dengan teknologi rendah itu selama ini sudah ditekuni oleh pengusaha lokal. “Kalau investasi tekhnologi tinggi silakan, kami malah bisa belajar dari mereka. Tapi kalau sektor mebel kami yang tergusur,” Anggoro menjelaskan. Ia menuding pemerintah daerah terlalu mengumbar masuknya modal asing yang selama ini. Pemerintah dinilai hanya mengejar nilai ekspor yang tinggi, tetapi keuntungannya justru tak dinikmati oleh pengusaha lokal.
(tempo.com)

0 komentar:

Posting Komentar